Ini Dia Penjelasan Kenapa Orang Pintar Lebih Susah Bahagia

Ini Dia Penjelasan Kenapa Orang Pintar Lebih Susah Bahagia

Menjadi pintar pastilah sering diidam-idamkan banyak orang. Kemampuan berpikir cepat, menyelesaikan masalah, mengetahui sistem, dan tahu persis apa yang hendak dilakukan dan dikatakan. Semua itu karena memiliki pengetahuan yang banyak. Dan pengetahuan banyak, seringkali berhubungan dengan kapasitas otak di mana orang pintar biasanya memiliki kapasitas otak lebih baik ketimbang orang biasa. Tentu saja, banyak orang tidak ingin menjadi biasa-biasa saja.

Tapi, apakah orang pintar bisa bahagia? Mungkin bisa, tapi mengutip penulis Amerika Ernest Hemingway yang pernah mengatakan, “happiness in intelligent people is the rarest thing I know”, kita bisa menyingkirkan sebentar dugaan itu. Seringkali orang pintar tidak merasa bahagia dengan sesuatu yang pada umumnya membuat orang lain bahagia. Misalnya memiliki orang tercinta, kedamaian dari keyakinan, keluarga yang harmonis, karier yang sukses, dan lain-lain, itu semu bukan jaminan dari kebahagian bagi orang pintar.

Orang pintar lebih susah bahagia? Ini dia beberapa hal yang mungkin menjadi alasannya:

Mereka Korban Dari Kemampuan Analisis Mereka Sendiri

Orang pintar biasanya suka sekali menganalisis sesuatu. Semua yang ada di depan mereka, masa lalu mereka, masa kini, dan masa depan seperti kumpulan data yang harus terus dibaca bagi mereka. Berpikir-dan berpikir. Kemampuan analisis mereka kemudian melebihi rata-rata. Mereka bisa saja memperkirakan datangnya sesuatu dengan baik. Tapi, karena terlalu banyak berpikir dan mengetahui sesuatu, mungkin mereka merasa tidak tertantang lagi atau malah tertekan karena terlalu banyak tahu tentang sesautu. Istilah ‘lupa adalah anugrah’ mungkin tidak berlaku lagi bagi orang pintar. Mereka terus berpikir dan berpikir. Menganalisis dan menganalisis.

Mereka Cenderung Ingin Mencocokan Semua Hal

Orang pintar tentu punya pengetahuan yang banyak. Maka selera mereka tentang sesuatu juga bukan selera sembarangan. Selera mereka adalah selera kelas tinggi yang terukur dan memiliki kondisi idealnya sendiri. Untuk semua hal, orang pintar biasanya cenderung ingin mencocokan semua hal di dunia ini, semisal hubungan, karier, lingkungan, dan lain-lain dengan selera tinggi mereka. Masalahnya, dunia tidak selalu bisa ditaklukkan dengan cara seperti itu. Karena itu, ketika mereka menemukan kenyataan yang tidak dapat memenuhi selera tinggi mereka, sangat mungkin sekali mereka merasa kecewa dan semacamnya.

Orang Pintar Mendorong Diri Mereka Terlalu Keras

Karena memiliki selera yang tinggi, sebagai akumulasi dari pengetahuan mereka, orang pintar biasanya mendorong diri mereka sendiri terlalu keras ketika melakukan sesuatu. Semisal ketika belajar, maka orang pintar biasanya memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk menguasai apa yang mereka pelajari. Ini tentu bukan hal buruk. Tapi ketika mereka melakukan sesuatu dan tidak puas dengan hasilnya, orang pintar akan dihantui oleh perasaan gagal seumur hidupnya dan memikirkan seharusnya ada tindakan yang lebih baik dari tindakannya sebelumnya. Anehnya, orang pintar yang mengalami ini biasanya mendorong diri mereka lebih kerasa lagi dari sebelumnya sebagai tindakan ‘penebusan’ rasa bersalah mereka.

Mereka Membidik Hal-hal Besar

Orang pintar tidak akan pernah dipuaskan lagi oleh hal-hal remeh dalam hidup ini karena kemampuan berpikir mereka memang berbeda dari orang kebanyakan. Orang-orang pintar cenderung menginginkan hal-hal besar semacam merubah dunia atau mengadakan sesuatu yang membawa pada kondisi ideal. Terdengar melelahkan bukan? Tapi itulah yang menarik minat orang-orang pintar.

Tidak Ada Percakapan Yang Berarti Lagi

Karena memiliki pengetahuan yang banyak, orang pintar akan merasa susah menemukan hal baru. Bisa jadi ketika terlibat percakapan dengan orang lain dia akan merasa percakapan itu tidak berguna atau mungkin sudah diketahuinya. Tidak ada yang menarik minatnya lagi, dan tidak ada ornag yang mampu membuatnya bergairah secara intelektual lagi. Mungkin karena ini orang pintar biasanya lebih suka sendiri atau dikasus yang lain akan memandang rendah orang lain.

Gangguan Kejiwaan

Telah dilakukan penelitian dimana hasilnya menunjukkan bahwa orang pintar cenderung mengidap salah satu dari sekian banyak penyakit jiwa seperti bipolar, kepribadian ganda, sosiopat, dan lain-lain. Apakah ini sebagai efek samping dari kapasitas otak mereka yang ada di atas rata-rata? Jawaban dari pertanyaan ini belum diketahui sampai sekarang.

Walaupun tidak semua orang pintar mengidap penyakit jiwa, kebiasaan mereka memikirkan sesuatu secara berlebih bisa saja membawa mereka pada tindakan menganalisis diri sendiri. Apa arti hidup dan apa arti kematian. Ketika memikirkan itu, mereka bisa saja tiba-tiba terjebak pada krisis eksistensi di mana mereka merasa antara ada dan tidak ada. Hal-hal semacam itu akan membuat mereka sedih, tanpa pernah tahu alasan pastinya. Dan tidak mengetahui sesuatu, biasanya membuat orang pintar lebih sedih lagi.