Rokok Elektrik Vs Rokok Biasa. Mana yang lebih Sehat?

Photo Copyright : http://www.e-cigarettepedia.com/
rokok listrik vs rokok biasa

Selama berabad-abad lamanya, Tembakau(rokok) telah dikonsumsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan tertier. tapi baru-baru ini proses penguapan(paving) terhadap bahan-bahan ini populer. Lalu pertanyaan utama dari kasus ini adalah: Apakah kehadiran tembakau yang diuapkan ini lebih baik daripada rokok konvensional?

Reaksi Rokok

Normalnya, Ketika merokok tembakau secara konvensional. Panas yang datang dari api menyebabkan zat-zat yang terkandung dalam lintingan tembakau seketika berubah dari padat menjadi uap atau asap. bersama zat-zat itulah nikotin dalam rokok masuk dan diserap oleh aliran darah melalui paru-paru, menyebabkan detak jantung meningkat, penyempitan pembuluh darah, dan merangsang diproduksinya hormon dopamine dalam otak yang menumbuhkan perasaan tenang dan nyaman.

Kamu Mulai Ketagihan

Sebagaimana zat perangsang lainnya, Nikotin ketika telah hilang atau habis di dalam aliran darah maka rasanya akan sangat tidak enak, tidak nyaman, dan tidak senang. kamu pasti MoMoGi alias mau mau lagi kan? disaat itu kamu sudah ketagihan atau kecanduan dengan Rokok.

Teknologi Rokok Baru

Ketika merokok, zat-zat rokok hanya butuh 6 detik untuk menuju sistem saraf berbeda dengan saat kamu mengunyah tembakau atau memakan mariyuana yang butuh waktu lebih lama. Namun dalam Prosesnya, kamu harus menghirup asap yang mengandung partikel “TAR”. Partikel yang mempunyai efek kanker,  gigi hitam, dan melemahkan indra perasa. Nah.. melihat gejala ini, maka dikembangkanlah teknologi Vaping (penguapan) atau yang lebih populer dengan istilah rokok elektrik.

Prinsipnya adalah: jika kamu bisa memanaskan komponen utama dalam hal ini nikotin untuk menjadi uap tanpa harus melalui pembakaran dengan zat-zat karsinogen lain. maka secara teoritis kamu bisa mendapatkan manfaat (efek) nikotin yang lebih cepat tanpa merusak pernapasan karena kandungan TAR dalam asap.

Vaping atau Rokok elektrik biasanya diwadahi kaca atau metal yang dialiri arus listrik. Dengan begitu arus panas bisa muncul di temperatur tertentu
dan menciptakan uap dengan pembakaran minimal, yang berarti kamu menghirup lebih sedikit asap.

Pada rokok elektrik, cairan yang dipanaskan atau diuapkan tersebut merupakan cairan yang diekstrak dari tembakau kering. cairan ini mengandung air, nikotin dan biasanya perasa. cairan ini bisa menjadi uap pada suhu yang tidak terlalu tinggi.

Sepertinya Rokok Elektrik Lebih Aman

Meskipun terlihat lebih aman dari merokok secara konvensional, rokok elektrik ini ternyata mengundang dilema. masalahnya cairan “E-Liquid” yang digunakan ternyata mengandung bahan dasar yang sama seperti yang ditemukan pada beberapa kosmetik atau makanan yang membantu menjaga kelembaban tanpa menyebabkan basah. salah satunya adalah Propylene Glycol, yang digunakan untuk efek teaterikal. bahan ini bisa menyebabkan iritasi pada mata dan infeksi pernafasan.

Apakah efek jangka panjang dari rokok uap atau elektrik? Ilmuwan masih menelitinya, dan walaupun di Amerika, FDA (Badan Makanan Amerika) sudah memberikan ijin untuk jenis rokok ini namun masih banyak resiko yang belum diketahui. Tak hanya itu, E-Liquid pada rokok elektrik juga mempunyai kualitas yang berbeda-beda dari tiap pabrikan karena belum adanya regulasi yang memadai untuk zat aditifnya.

Oet, Tunggu Dulu!

Pada sebagian produk E-liquid ditemukan zat Diacetyl, zat kimia yang digunakan pada mentega untuk memberikan rasa gurih mentega. Menghirup zat ini dapat menyebabkan luka pada paru-paru! “Paru-paru Popcorn” adalah nama penyakit yang diderita oleh ratusan pekerja pabrik popcorn yang menghirup zat itu dan akhirnya terkena penyakit paru-paru. Inilah contoh bagaiamana kurangnya kontrol kualitas terhadap cairan pada rokok elektrik.

Kabar baiknya, indikasi terakhir menyatakan bahwa efek penguapan membuat bahaya nikotin berkurang karena makin sedikit zat karsinogen dan asap yang dihirup. Tapi tunggu dulu, karena itu bukan berarti aman. Beberapa Cairan rokok elektrik dengan perisa (seperti blueberry dan anggur) telah ditemukan mengandung bahan berbahaya. Selain itu, efek bagi perokok pasif masih menjadi masalah.

Partikel asap yang dihasilkan oleh rokok elektrik dikenal dengan istilah “partikel ultrafine” diketahui mempunyai efek kesehatan pada paru-paru. Banyak Pihak yang khawatir jika rokok elektrik dianggap lebih sehat daripada rokok konvensional maka dapat menarik lebih banyak perokok baru dari golongan remaja.

Sebuah penelitian mengungkap bahwa jumlah remaja yang merokok elektrik di kelas 6-12 telah bertambah dari 6%-20% dalam 3 tahun.

Karena kehadiran rokok elektrik ini masih baru, maka efek jangka panjangnya pun masih dalam penelitian, belum bisa dilihat. sementara untuk rokok konvensional, efek jangka panjangnya dapat dilihat pada gambar di setiap kemasan rokok yang anda beli. Jadi, perhatikan gambarnya baik-baik!